LAMPUKUNING.ID, KUALA TUNGKAL – Puluhan guru SMAN 1 Tanjung Jabung Barat mulai diarahkan meninggalkan pola pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan. Mereka dilatih merancang pengalaman belajar yang membuat siswa memahami persoalan, menganalisisnya, hingga menghasilkan solusi.
Pelatihan tersebut digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Universitas Jambi melalui workshop dan pendampingan penerapan model Deep Learning terintegrasi Case Study (DL-CS).
Kegiatan berlangsung di SMAN 1 Tanjung Jabung Barat dengan mengangkat tema Merancang Pengalaman Belajar Bermakna: Implementasi Model Deep Learning Terintegrasi Case Study (DL-CS).
Tim PPM Universitas Jambi dipimpin Dr. Afreni Hamidah, S.Pt., M.Si. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi mendorong guru mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi siswa.
Perwakilan Tim PPM Universitas Jambi, Prof. Dr. Drs. Naswir, M.Si., mengatakan kehadiran perguruan tinggi di sekolah diperlukan untuk membantu guru mengikuti perkembangan pendekatan pembelajaran.
Dalam kegiatan tersebut, guru tidak hanya menerima materi. Mereka juga diajak langsung menyusun rancangan pembelajaran menggunakan persoalan atau kasus yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi perancang pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual bagi murid,” demikian penekanan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan dibuka Wakil Kepala SMAN 1 Tanjung Jabung Barat, Arif Sobri, yang hadir mewakili kepala sekolah.
Pihak sekolah menyambut baik pelatihan tersebut dan berharap pengetahuan yang diperoleh guru dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas.
Dalam praktiknya, model DL-CS menggabungkan pendekatan Deep Learning dengan metode studi kasus. Guru diarahkan membuat pembelajaran yang mendorong siswa tidak sekadar mengetahui materi, tetapi memahami persoalan dan mencari jalan keluar berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.
Ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam model tersebut, yakni mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning.
Mindful learning menempatkan kesadaran dan fokus siswa sebagai bagian awal pembelajaran. Sementara meaningful learning menghubungkan materi pelajaran dengan persoalan nyata. Sedangkan joyful learning mendorong terciptanya proses belajar yang lebih aktif, kolaboratif, dan menyenangkan.

Pendekatan itu kemudian dipraktikkan melalui lima tahapan pembelajaran.
Guru diajak memulai pembelajaran dengan menghubungkan pengalaman siswa dengan masalah autentik. Setelah itu siswa diarahkan mengeksplorasi masalah, mencari informasi, dan mengumpulkan data yang diperlukan.
Tahap berikutnya adalah elaborasi. Pada tahap ini siswa menganalisis kasus, berdiskusi, dan membangun pemahaman berdasarkan informasi yang ditemukan.
Proses pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan refleksi. Siswa mengevaluasi kembali proses berpikir dan pemahaman yang telah diperoleh sebelum masuk ke tahap aplikasi.
Pada tahap terakhir, pengetahuan yang diperoleh digunakan untuk menghasilkan solusi atau karya yang berkaitan dengan persoalan yang dibahas.
Suasana workshop berlangsung interaktif. Para guru terlihat berdiskusi dan mencoba menyusun rancangan pembelajaran berbasis kasus sesuai kebutuhan mata pelajaran masing-masing.
Selain rancangan pembelajaran, peserta juga mendapatkan materi mengenai penyusunan asesmen. Guru diarahkan menggunakan asesmen diagnostik untuk mengetahui kondisi awal siswa, asesmen formatif selama proses pembelajaran, serta asesmen autentik pada tahap akhir.
Asesmen autentik tersebut dapat digunakan untuk melihat kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan, bukan hanya mengukur kemampuan mengingat materi.
Tim PPM Universitas Jambi berharap pendekatan tersebut dapat diterapkan guru setelah kegiatan berakhir. Dengan demikian, hasil pelatihan tidak berhenti pada workshop, tetapi masuk ke ruang kelas dan menjadi bagian dari proses belajar siswa.

Melalui penerapan DL-CS, pembelajaran diharapkan bergerak dari sekadar mengejar penguasaan materi menuju pengalaman belajar yang membuat siswa mampu memahami masalah, menerapkan pengetahuan, bekerja sama, berpikir kritis, dan menghasilkan solusi.
Bagi guru, perubahan tersebut berarti tidak hanya menyiapkan apa yang akan diajarkan, tetapi juga merancang bagaimana siswa mengalami sendiri proses belajar hingga mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata.






